Sabtu, 15 Desember 2012

judul 1


HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI(APD) TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KULIT PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH



ABSTRAK




           Peneliti ingin melakukan penelitian mengenai hubungan penggunaan Alat pelindung diri (APD) terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah diTPA tenggarong.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan penggunaan Alat Pelindung Diri terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah.
           Tahapan rancangan penelitian ini antara lain adalah menetapkan rumusan masalah dan melakukan observasi tempat penelitian, Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan antara sikap penggunaan APD. Design penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek,dengan cara pendekatan,observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat serta hanya mengkaji masalah-masalah keadaan subyek pada waktu penelitian berlangsung atau informasi data yang akan dikumpulkan hanya pada satu waktu tertentu






BAB I

PENDAHULUAN



A.        Latar Belakang
Saat  ini sampah kian menjadi permasalahan dalam kehidupan sehari – hari, baik itu di kota besar maupun di kota – kota kecil. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas manusia menyebabkan sampah kian hari kian bertambah banyak. Masyarakat seakan  tidak perduli akan dampak yang ditimbulkan oleh sampah tersebut, padahal sampah memiliki banyak dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.  Sampah dapat menyebabkan polutan sehingga menyebabkan turunnya nilai estetika lingkungan, membawa berbagai jenis penyakit, menurunkan sumber daya, menimbulkan polusi, menyumbat saluran air dan berbagai akibat negatif lainnya.
Sampah yang datang di TPA berasal dari sumber yang berbeda beda sehingga komposisinya juga berbeda-beda. Komposisi sampah yang akan ditampilkan dalam persentase (%)berat (biasanya berat basah) atau % dari volume (basah). Sampah yang dihasilkan dapat dikategorikan sebagai limbah organik dan anorganik. Limbah organik dapat dikategorikan ke dalam mudah-diurai dan susah diurai. Kategori pertama termasuk sampah dapur, sampah makanan, sampah sayuran, buah.  Sedangkan yang kedua adalah  kertas, tekstil, karet, kayu, dan kulit. Sampah anorganik yang tidak dapat terurai termasuk logam, besi, kaca, tembikar.
Di kota – kota besar, sampah terkadang dikelola dengan baik tapi ada pula sebagian kota – kota yang tidak mampu mengelola sampah –sampahnya. Seperti halnya di kota besar seperti di Jakarta, sampah seakan menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Masyarakat seharusnya mampu mengelola dan memilih sampah mana yang dapat di daur ulang dan mana yang tidak, sehingga sampah yang mudah membusuk tidak bercampur dengan sampah yang tidak dapat terurai. Hal inilah yang bisa menimbulkan dampak negatif secara langsung terhadap kesehatan. Pada umumnya sampah yang telah diangkut ke Tempat Pembuangan akhir ( TPA ) akan dibiarkan beberapa saat sampai pada akhirnya akan diurai atau di bakar. Hal ini tentu saja secara langsung atau tidak langsung akan mencemari udara di sekitarnya.
Tentu dari sekian banyaknya sampah tersebut dalam pengolahannya juga memberi dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya, terutama pada petugas pengumpul sampah atau pemulung yang ada di TPA tersebut. Kontak yang lama antara petugas pengangkut sampah dengan berbagai macam sampah dalam waktu yang lama juga menjadi faktor resiko  untuk kemungkinan terkena penyakit gangguan saluran pernafasan dan berbagai penyakit lainnya. Penyakit saluran nafas yang terjadi pada petugas pengangkut sampah tersebut dapat disebabkan karena status gizi, faktor lama  kerja sebagai petugas pengumpul sampah, kelelahan, hygiene individu yang tidak baik, faktor umur yang menjadi kerentanan terhadap penyakit dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada petugas penganggkut sampah.
Mewujudkan sanitasi lingkungan yang baik diantaranya melalui pengelolaan sampah. Kegiatan pengumpulan sampah merupakan kegiatan dari proses pengumpulan atau pengambilan dari berbagai sumbernya dan proses pengangkutannya. Pengangkutan sampah dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan,Dinas Kebersihan membagikan alat pelindung diri sebagai sarana perlengkapan kerja yang berupa sarung tangan, pakaian seragam, sepatu boot yang diberikan pada petugas pengangkut sampah setiap setahun sekali sebagai upaya untuk mengurangi bahaya yang ada.
B.  Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahannya adalah:
Apakah hubungan penggunaan APD terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah



C.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui apakah Penggunaan APD memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah
2.      Untuk mengetahui bagaimana saja pengaruh penggunaan APD terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah
3.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan APD terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah


D.  Manfaat
1. Manfaat bagi pemerintah
        Sebagai bahan masukan dan sumber informasi bagi pemerintah,tentang pengaruh penggunaan APD terhadap petugas pengangkut sampah dengan kejadian penyakit kulit
2. manfaat ilmiah
        Sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengelolaan sampah terutama pada tahap pengangkutannya dengan kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah
3. manfaat peneliti
        Merupakan pengalaman dan mengasah wawasan peneliti mengenai hubungan penggunaan APD terhadap petugas pengangkut sampah dengan kejadian penyakit kulit ditenggarong.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sampah
       Menurut definisi World Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2006). Undang-Undang Pengelolaan Sampah Nomor 18 tahun 2008 menyatakan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.
        Juli Soemirat (1994) berpendapat bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Azwar (1990) mengatakan yang dimaksud dengan sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri) tetapi bukan biologis karena kotoran manusia (human waste) tidak termasuk kedalamnya.

B. Sumber Sampah
Menurut Kusnoputranto (1985), sumber sampah dibedakan menjadi :
1.      Sampah yang berasal dari daerah pemukiman.
2.      Sampah yang berasal dari daerah perdagangan.
3.      Sampah yang berasal dari jalan-jalan raya.
4.      Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum.
5.      Sampah yang berasal dari daerah kehutanan.
6.      Sampah yang berasal dari pusat-pusat pengolahan air buangan.
7.      Dari daerah peternakan dan perikanan.






 Komposisi Sampah
           Menurut Sudarso (1985), komposisi sampah dibedakan menjadi komposisi fisik dan kimia.
a.       Komposisi Fisik
Susunan sampah secara fisik selain untuk pemilihan dan penggunaan alat pengelolaan dapat digunakan sebagai penjajagan dalam usaha pemanfaatan sumber energi.
b.   Komposisi Kimia
Sampah dapat dimanfaatkan kembali, tetapi perlu memperhatikan komposisi kimianya. Pemanfaatan sampah antara lain dengan menggunakannya sebagai bahan bakar.

         c.  Klasifikasi Sampah
Menurut Anonim (2000), sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:
a. Sampah basah (Garbage)
b. Sampah kering (Rubish)
c.   Sampah lembut

       D.  Jenis sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya
        Menurut Ircham (1992), jenis sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dibedakan menjadi :
a.  Sampah Organik
b. Sampah Anorganik.
        E.  Sampah sebagai sarana penulara penyakit
           Menurut Departemen Kesehatan (1987), sampah dapat menjadi tempat berkembang biak dan sarang dari bermacam-macam vector penularan penyakit. Vektor-vektor penularan penyakit yang biasa hidup dalam sampah adalah : a)  lalat, b) kecoak , c)  nyamuk ,d)  tikus.



        F.  Tahap Pengelolaan Sampah
          Sampah adalah benda yang sudah tidak dipakai, tidak diinginkan dan dibuang yang berasal dari aktivitas dan bersifat padat, tidak termasuk kotoran manusia.
Menurut Depkes RI (1987), dalam pengelolaan sampah terdapat enam tahapan pengelolaan sampah yaitu :
a.  Tahap penimbulan sampah
b.  Tahap penanganan setempat
c.  Tahap pengumpulan sampah
d.  Tahap pemindahan dan pengangkutan
e. Tahap pengolahan
f.  Tahap pembuangan akhir

     G.  Pengangkut Sampah
      Pengangkutan sampah adalah pemindahan sampah (dari tempat sampah sementara atau pengumpulan) ketempat pembuangan dengan kendaraan yang relatif lebih besar. (Sudarso 1985 ).
Elemen fungsional pemindahan dan pengangkutan sampah menyangkut mengenai penggunaan fasilitas dan perlengkapan yang digunakan untuk memindahkan sampah dari alat pengangkutan yang relative lebih kecilm ke dalam alat pengangkut yang lebih besar yang digunakan untuk mengangkutnya ke tempat yang lebih jauh baik menuju ke pusat pemrosesan atau tempat pembuangan akhir.
Sistem pengangkutan dapat dibagi dalam beberapa tahap antara lain :
1.      Tempat pengangkut sementara dari rumah tangga  dapat dikumpulkan ke tempat sementara yang lebih besar dan dapat diangkut dengan gerobak atau truk.
2.      Sampah diangkut ketempat yang lebih besar biasanya dapat diangkut dengan menggunakan truk.
3.      Transfer station selanjutnya sampah diangkut ke pembuangan akhir.
Pelaksanaan pemindahan sampah dapat diterapkan dengan baika pada hampir setiap jenis system pengumpulan sampah. Stasiun pemindahan merupakan suatu tempat terselenggaranya pemindahan sampah dari kendaraan pengumpul sampah dan kendaraan-kendaraan lain yang lebih kecil kedalam kendaraan-kendaraan lain yang lebih besar.
Cara yang digunakan dalam memuati alat-alat angkut dapat dibedakan menjadi :
    1.   Tipe pengisian langsung
 Mempunyai kapasitas besar, sampah dari kendaraan pengumpul       dipindahkan secara langsung kedalam kendaraan yang digunakan untuk angkut ke tempat pembuangan akhir.
   2.   Tipe bongkar simpan
          Tipe ini sampah dituangkan pada tempat penyimpanan atau pada lantai.
   3.   Tipe kombinasi pengisian langsung dan bongkar simpan
          Stasiun pemindah baik tipe bongkar langsung maupun bongkar simpan    bersama-sama       digunakan.

         H.  Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan
        Menurut Juli Soemirat (1994), pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi efek yang langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan sampah. Misalnya sampah beracun, sampah yang korosif terhadap tubuh, sampah yang karsinogenik, teratogenik dan lainnya. Selain itu adapula sampah yang mengandung kuman pathogen, sehingga dapat menimbulkan penyakit. Efek tidak langsung yaitu pengaruh yang tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran, dan pembuangan sampah. Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit menular, tidak menular seperti bakteri, jamur cacing dan zat kimia, dapat juga berupa akibat kebakaran, keracunan dan lain-lain. Secara keseluruhan lingkungan bereperan penting akan kesejahteraan dan kesehatan hidup manusia.
Menurut Gumbira Said (1987), Lingkungan biologis diantaranya sampah dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan sebagian bahkan dapat menularkan keseluruh masyarakat. Penyebaran penyakit ke masyarakat dapat terjadi melalui kontak badan, kontak udara, penyebaran melalui air, sampah dan lain-lain. Pola dan penyebaran penyakit sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kontak antara penyakit, media penyebaran dan individu yang rentan terhadap penyakit.
Penyakit dalam berinteraksi terdapat 2 pola yaitu :
a.   Lingkungan yang buruk akibat sampah menyebabkan suatu penyakit, masuk menginjeksi masyarakat yang rentan kesehatannya.
b.   Inang pembawa penyakit menyebarkan penyakit melalui sampah yang dihasilkan.

           I.    Kesehatan dan Keselamatan Kerja
        Tingkat kesehatan dari seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap penampilan dan kapasitas kerjanya. Dengan demikian program kesehatan kerja tidak hanya mengusahakan peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan baik fisik, mental dan kesejahtaraan sosial, tetapi juga pencapaian kerja yang optimal. Salah satu masalah kesehatan yang timbul pada tempat kerja adalah kecelakaan kerja atau yang berhubungan dengan keselamatan kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan perkakas karja, bahaya dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan keselamatan kerja yang memiliki sasaran segala tempat kerja.
       
           Salah satu faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya kecelakaan yaitu faktor manusia. Penerapan cara-cara kerja dan prosedur kerja yang baik dapat mengurangi bahaya dan resiko terhadap tenaga kerja. Oleh karena itu dalam usaha melindungi tenaga kerja hal-hal yang perlu di perhatikan yaitu pengamanan setempat, peralatan, lingkungan kerja dan penggunaan alat pelindung perorangan untuk melindungi dari bahaya kesehatan. Demikian juga kebersihan diri dan pakaiannya merupakan hal penting untuk para pekerja. Untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan para pekerja yaitu pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, penempatan kerja yang baik dan pemeriksaan kesehatan secara rutin sehingga apabila di temukan gangguan kesehatan dapat segera ditangani. Disamping itu pendidikan kesehatan bagi pekerja serta penerapan prinsip-prinsip keselamatan dan ergonomic di lingkungan kerja (personal hygiene) harus dilakukan (Kasjono, 1995).
       A.    Alat Pelindung Diri
1.   Pengertian
      Menurut Budiono (2003), alat pelindung diri adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagia atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja.
2.    Syarat APD
      Menurut Suma’mur (1996), syarat-syarat alat pelindung diri yang baik antara lain:
a.   Alat pelindung diri tersebut harus enak dipakai.
b.   Alat pelindung diri tersebut harus tidak boleh mengganggu pekerjaannya.
c.   Memberikan perlindungan yang efektif terhadap bahaya yang dihadapinya.

3.    Jenis Alat Pelindung Diri
       Menurut Suma’mur (1996), alat pelindung diri beraneka ragam macamnya, jika digolongkan menurut bagian tubuh yang dilindungi maka jenis proteksi diri adalah :
a.       Kepala                   : pengikat rambut, penutup, topi dari berbagai bahan
b.      Mata                      : kaca mata dari berbagai jenis
c.       Muka                     : perisai muka
d.      Tangan dan jari     : sarung tangan
e.       Alat pernafasan     : masker khusus
f.       Telinga                  : sumbat telinga dan tutup telinga
g.      Tubuh                    : pakaian kerja dari berbagai bahan
        Menurut Notoadmodjo (1974), faktor yang mempengaruhi bersedia    atau tidaknya menggunakan alat pelindung diri yang telah disediakan adalah :
a.       Sejauh mana orang yang memakai alat itu mengerti akan kegunaannya.
b.      Kemudahan dan kenyamanan apabila dipakai dengan gangguan yang paling minimum terhadap prosedur kerja yang normal.
c.       Sangsi-sangsi ekonomi, social dan disiplin yang dapat digunakan untuk mempengaruhi attitude mereka.


F.     Penyakit Kulit
         Penyakit kulit merupakan kelainan kulit yang diakibatkan oleh adanya jamur, kuman-kuman, parasit, virus maupun infeksi. Penyakit jamur dapat hidup dan berkembang biak ditempat pembuangan sampah dan pada petugas pengangkut sampah. Penyakit kulit dapat menyerang keseluruh atau sebagian tubuh tertentu. Bahan-bahan yang mengandung nitrit yang terdapat dalam sampah secara kontak langsung dapat menimbulkan alergi dan iritasi.
        Menurut Petrus Adrianto dan Sukardi (1988), penyebab timbulnya penyakit infeksi jamur adalah :
1. Adanya udara yang lembab dan panas (daerah tropis)
2. Higiene yang kurang baik
3. Lingkungan yang padat dan sosio ekonomi yang rendah
           Gejala pada penyakit kulit biasanya penderita merasa gatal kemudian digaruk sehingga terjadi infeksi, selain itu juga diakibatkan karena  reaksi dari alergi dan timbul benjolan.
Tanda-tanda penyakit kulit yang dapat dilihat yaitu :
1.   Bintik-bintik putih pada muka, leher, telapak tangan
2.   Kulit kelihatan merah




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
          Penelitian ini bersifat deskristif analitik.Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan antara sikap penggunaan APD. Design penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek,dengan cara pendekatan,observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat serta hanya mengkaji masalah-masalah keadaan subyek pada waktu penelitian berlangsung atau informasi data yang akan dikumpulkan hanya pada satu waktu tertentu.

B.     Populasi  dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah petugas pengangkut sampah di Bantul  yang terdiri dari 70 petugas pengangkut yang berada di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan di kabupaten kutai kartanegara
2.      Sampel
Penelitian ini menggunakan cara non probability sampling dengan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel secara purposive didasarkan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2002).

C.    Variabel Penelitian
1.      Variabel bebas (independent variable) adalah pemakaian  alat pelindung diri.
2.      Variabel terikat (dependent variable) adalah penyakit kulit.
3.      Variabel pengganggu (confounding variable) adalah usia, lama bekerja dan pendidikan, kebersihan alat pelindung diri.

D.    Definisi Operasional
            1.       Pemakaian  alat pelindung diri
Pemakaian APD yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seperangkat alat yang digunakan pengangkut sampah untuk melindungi tubuhnya dari adanya potensi bahaya. Alat pelindung diri tersebut terdiri dari sarung tangan, seragam kebersihan, sepatu boot.
Kriteria penggunaan alat pelindung diri:
Lengkap            : Petugas pengangkut sampah menggunakan alat pelindung diri yang berupa sarung tangan, sepatu boot, seragam kebersihan.            
Tidak lengkap         : Petugas pengangkut sampah tidak menggunakan salah satu alat pelindung diri tersebut.
Skala : Nominal
         2.         Penyakit kulit
Gangguan atau penyakit  yang diderita oleh petugas pengangkut sampah yang ditandai dengan gatal-gatal pada telapak tangan  dan memerah pada telapak tangan yaitu seperti jamur (Petrus Adrianto dan Sukardi, 1988).
Kriteria petugas yang menderita penyakit kulit:
Menderita                          : Pada petugas pengangkut sampah ditemui
                                            adanya tanda atau gejala gatal-gatal pada
  telapak tangan.
Tidak menderita                : Pada petugas pengangkut sampah tidak ditemui
  tanda atau gejala gatal-gatal.
Skala : Nominal
         3.         Variabel Pengganggu
a.       Usia
b.      Lama Kerja
c.       Tingkat Pendidikan
d.      Kebersihan alat pelindung diri
E.      Hubungan Antar Variabel
F.     Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner  yang telah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
Kuesioner dalam penelitian ini yaitu kuesioner tentang pemakaian alat pelindung diri dan penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah.
Kuesioner terdiri dari tiga bagian yaitu:
1.      Kuesioner pertanyaan identitas responden
2.      Kuesioner pertanyaan tentang  alat pelindung diri
3.      Kuesioner pertanyaan tentang penyakit kulit

G.    Tehnik Pengumpulan Data
       Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti, dengan mendatangi Dinas Pekerjaan Umum yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Responden yang memenuhi syarat dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini akan diberi penjelasan oleh peneliti tentang cara mengisi kuesioner. Kuesioner diisi sendiri oleh responden saat itu juga dan setelah selesai diambil kembali oleh peneliti.
Tahapan dalam pengumpulan data dengan cara :
1)      Editing
Dilakukan untuk mengetahui lengkap, jelas, relevan dan konsistennya jawaban dalam kuesioner yang telah diisi oleh responden.
2)      Koding
Merubah data yaitu jawaban yang berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka. Kemudian dimasukkan dalam tabel dan memberikan kategori memakai dan tidak memakai untuk variabel penggunaan Alat Pelindung Diri. Sedangkan untuk variabel penyakit kulit dikategorikan menjadi menderita dan tidak menderita.
3)      Entry
Memasukkan data yang ada ke dalam program komputer.

H.     Rencana Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam mengolah data yang didapat yaitu menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) 13 for windows yaitu program yang digunakan untuk membuat dan mendistribusikan informasi hasil pengolahan data statistik untuk mengambil suatu keputusan (Singgih, 2001)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar