HUBUNGAN
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI(APD) TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KULIT PADA
PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH
ABSTRAK
Peneliti ingin melakukan penelitian mengenai
hubungan penggunaan Alat pelindung diri (APD) terhadap kejadian penyakit kulit
pada petugas pengangkut sampah diTPA tenggarong.Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah ada hubungan penggunaan Alat Pelindung Diri terhadap kejadian
penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah.
Tahapan rancangan penelitian ini
antara lain adalah menetapkan rumusan masalah dan melakukan observasi tempat
penelitian, Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan antara sikap penggunaan APD. Design penelitian yang digunakan
adalah cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
antara faktor-faktor resiko dengan efek,dengan cara pendekatan,observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat serta hanya mengkaji masalah-masalah
keadaan subyek pada waktu penelitian berlangsung atau informasi data yang akan
dikumpulkan hanya pada satu waktu tertentu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Saat ini sampah kian menjadi permasalahan dalam
kehidupan sehari – hari, baik itu di kota besar maupun di kota – kota kecil.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas manusia menyebabkan
sampah kian hari kian bertambah banyak. Masyarakat seakan tidak perduli akan dampak yang ditimbulkan
oleh sampah tersebut, padahal sampah memiliki banyak dampak buruk terhadap
lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Sampah dapat menyebabkan polutan sehingga menyebabkan turunnya nilai
estetika lingkungan, membawa berbagai jenis penyakit, menurunkan sumber daya,
menimbulkan polusi, menyumbat saluran air dan berbagai akibat negatif lainnya.
Sampah
yang datang di TPA berasal dari sumber yang berbeda beda sehingga komposisinya
juga berbeda-beda. Komposisi sampah yang akan ditampilkan dalam persentase
(%)berat (biasanya berat basah) atau % dari volume (basah). Sampah yang
dihasilkan dapat dikategorikan sebagai limbah organik dan anorganik. Limbah
organik dapat dikategorikan ke dalam mudah-diurai dan susah diurai. Kategori
pertama termasuk sampah dapur, sampah makanan, sampah sayuran, buah. Sedangkan yang kedua adalah kertas, tekstil, karet, kayu, dan kulit.
Sampah anorganik yang tidak dapat terurai termasuk logam, besi, kaca, tembikar.
Di
kota – kota besar, sampah terkadang dikelola dengan baik tapi ada pula sebagian
kota – kota yang tidak mampu mengelola sampah –sampahnya. Seperti halnya di
kota besar seperti di Jakarta, sampah seakan menjadi pemandangan yang tidak
asing lagi. Masyarakat seharusnya mampu mengelola dan memilih sampah mana yang
dapat di daur ulang dan mana yang tidak, sehingga sampah yang mudah membusuk
tidak bercampur dengan sampah yang tidak dapat terurai. Hal inilah yang bisa
menimbulkan dampak negatif secara langsung terhadap kesehatan. Pada umumnya
sampah yang telah diangkut ke Tempat Pembuangan akhir ( TPA ) akan dibiarkan
beberapa saat sampai pada akhirnya akan diurai atau di bakar. Hal ini tentu
saja secara langsung atau tidak langsung akan mencemari udara di sekitarnya.
Tentu
dari sekian banyaknya sampah tersebut dalam pengolahannya juga memberi dampak
negatif terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya, terutama pada petugas
pengumpul sampah atau pemulung yang ada di TPA tersebut. Kontak yang lama
antara petugas pengangkut sampah dengan berbagai macam sampah dalam waktu yang
lama juga menjadi faktor resiko untuk
kemungkinan terkena penyakit gangguan saluran pernafasan dan berbagai penyakit
lainnya. Penyakit saluran nafas yang terjadi pada petugas pengangkut sampah
tersebut dapat disebabkan karena status gizi, faktor lama kerja sebagai petugas pengumpul sampah,
kelelahan, hygiene individu yang tidak baik, faktor umur yang menjadi
kerentanan terhadap penyakit dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada petugas
penganggkut sampah.
Mewujudkan
sanitasi lingkungan yang baik diantaranya melalui pengelolaan sampah. Kegiatan
pengumpulan sampah merupakan kegiatan dari proses pengumpulan atau pengambilan
dari berbagai sumbernya dan proses pengangkutannya. Pengangkutan sampah
dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan,Dinas Kebersihan membagikan alat pelindung
diri sebagai sarana perlengkapan kerja yang berupa sarung tangan, pakaian
seragam, sepatu boot yang diberikan pada petugas pengangkut sampah setiap
setahun sekali sebagai upaya untuk mengurangi bahaya yang ada.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahannya adalah:
Apakah hubungan
penggunaan APD terhadap kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui apakah Penggunaan APD memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit
kulit pada petugas pengangkut sampah
2. Untuk
mengetahui bagaimana saja pengaruh penggunaan APD terhadap kejadian penyakit
kulit pada petugas pengangkut sampah
3. Untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan APD terhadap kejadian penyakit
kulit pada petugas pengangkut sampah
D.
Manfaat
1.
Manfaat bagi pemerintah
Sebagai bahan masukan dan sumber
informasi bagi pemerintah,tentang pengaruh penggunaan APD terhadap petugas
pengangkut sampah dengan kejadian penyakit kulit
2.
manfaat ilmiah
Sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan pengelolaan sampah terutama pada tahap pengangkutannya
dengan kejadian penyakit kulit pada petugas pengangkut sampah
3.
manfaat peneliti
Merupakan pengalaman dan mengasah
wawasan peneliti mengenai hubungan penggunaan APD terhadap petugas pengangkut
sampah dengan kejadian penyakit kulit ditenggarong.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Sampah
Menurut definisi World
Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak
dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan
manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2006). Undang-Undang
Pengelolaan Sampah Nomor 18 tahun 2008 menyatakan sampah adalah sisa kegiatan
sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.
Juli
Soemirat (1994) berpendapat bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak dikehendaki
oleh yang punya dan bersifat padat. Azwar (1990) mengatakan yang dimaksud
dengan sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi
atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang
dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri) tetapi bukan biologis karena
kotoran manusia (human waste) tidak termasuk kedalamnya.
B.
Sumber Sampah
Menurut Kusnoputranto
(1985), sumber sampah dibedakan menjadi :
1. Sampah yang berasal dari
daerah pemukiman.
2. Sampah yang berasal dari
daerah perdagangan.
3. Sampah yang berasal dari
jalan-jalan raya.
4. Sampah yang berasal dari
tempat-tempat umum.
5. Sampah yang berasal dari
daerah kehutanan.
6. Sampah yang berasal dari
pusat-pusat pengolahan air buangan.
7. Dari daerah peternakan dan
perikanan.
Komposisi Sampah
Menurut Sudarso (1985), komposisi
sampah dibedakan menjadi komposisi fisik dan kimia.
a. Komposisi Fisik
Susunan sampah secara fisik
selain untuk pemilihan dan penggunaan alat pengelolaan dapat digunakan sebagai
penjajagan dalam usaha pemanfaatan sumber energi.
b. Komposisi Kimia
Sampah dapat dimanfaatkan
kembali, tetapi perlu memperhatikan komposisi kimianya. Pemanfaatan sampah
antara lain dengan menggunakannya sebagai bahan bakar.
c.
Klasifikasi Sampah
Menurut Anonim (2000),
sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:
a. Sampah basah (Garbage)
b. Sampah kering (Rubish)
c. Sampah lembut
D. Jenis sampah berdasarkan zat kimia yang
terkandung di dalamnya
Menurut Ircham (1992), jenis sampah
berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dibedakan menjadi :
a. Sampah Organik
b. Sampah Anorganik.
E.
Sampah sebagai sarana penulara penyakit
Menurut Departemen Kesehatan (1987),
sampah dapat menjadi tempat berkembang biak dan sarang dari bermacam-macam
vector penularan penyakit. Vektor-vektor penularan penyakit yang biasa hidup
dalam sampah adalah : a) lalat, b)
kecoak , c) nyamuk ,d) tikus.
F.
Tahap Pengelolaan Sampah
Sampah adalah benda yang sudah tidak dipakai, tidak diinginkan dan
dibuang yang berasal dari aktivitas dan bersifat padat, tidak termasuk kotoran
manusia.
Menurut Depkes RI (1987),
dalam pengelolaan sampah terdapat enam tahapan pengelolaan sampah yaitu :
a. Tahap penimbulan sampah
b. Tahap penanganan setempat
c. Tahap pengumpulan sampah
d. Tahap pemindahan dan pengangkutan
e. Tahap pengolahan
f. Tahap pembuangan akhir
G. Pengangkut Sampah
Pengangkutan sampah adalah pemindahan
sampah (dari tempat sampah sementara atau pengumpulan) ketempat pembuangan
dengan kendaraan yang relatif lebih besar. (Sudarso 1985 ).
Elemen fungsional pemindahan
dan pengangkutan sampah menyangkut mengenai penggunaan fasilitas dan
perlengkapan yang digunakan untuk memindahkan sampah dari alat pengangkutan
yang relative lebih kecilm ke dalam alat pengangkut yang lebih besar yang
digunakan untuk mengangkutnya ke tempat yang lebih jauh baik menuju ke pusat
pemrosesan atau tempat pembuangan akhir.
Sistem pengangkutan dapat
dibagi dalam beberapa tahap antara lain :
1. Tempat pengangkut sementara dari rumah
tangga dapat dikumpulkan ke tempat
sementara yang lebih besar dan dapat diangkut dengan gerobak atau truk.
2. Sampah diangkut ketempat yang lebih besar
biasanya dapat diangkut dengan menggunakan truk.
3. Transfer station selanjutnya sampah
diangkut ke pembuangan akhir.
Pelaksanaan pemindahan
sampah dapat diterapkan dengan baika pada hampir setiap jenis system
pengumpulan sampah. Stasiun pemindahan merupakan suatu tempat terselenggaranya
pemindahan sampah dari kendaraan pengumpul sampah dan kendaraan-kendaraan lain
yang lebih kecil kedalam kendaraan-kendaraan lain yang lebih besar.
Cara yang digunakan dalam
memuati alat-alat angkut dapat dibedakan menjadi :
1.
Tipe pengisian langsung
Mempunyai kapasitas besar, sampah dari
kendaraan pengumpul dipindahkan
secara langsung kedalam kendaraan yang digunakan untuk angkut ke tempat
pembuangan akhir.
2.
Tipe bongkar simpan
Tipe ini sampah dituangkan pada tempat penyimpanan atau pada lantai.
3.
Tipe kombinasi pengisian langsung dan bongkar simpan
Stasiun pemindah baik tipe bongkar langsung maupun bongkar simpan bersama-sama digunakan.
H.
Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan
Menurut Juli Soemirat (1994), pengaruh
sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi efek yang langsung dan
efek tidak langsung. Efek langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak
langsung dengan sampah. Misalnya sampah beracun, sampah yang korosif terhadap
tubuh, sampah yang karsinogenik, teratogenik dan lainnya. Selain itu adapula
sampah yang mengandung kuman pathogen, sehingga dapat menimbulkan penyakit.
Efek tidak langsung yaitu pengaruh yang tidak langsung dapat dirasakan oleh
masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran, dan pembuangan sampah.
Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit menular, tidak
menular seperti bakteri, jamur cacing dan zat kimia, dapat juga berupa akibat
kebakaran, keracunan dan lain-lain. Secara keseluruhan lingkungan bereperan
penting akan kesejahteraan dan kesehatan hidup manusia.
Menurut Gumbira Said (1987),
Lingkungan biologis diantaranya sampah dapat menimbulkan penyakit pada manusia
dan sebagian bahkan dapat menularkan keseluruh masyarakat. Penyebaran penyakit
ke masyarakat dapat terjadi melalui kontak badan, kontak udara, penyebaran
melalui air, sampah dan lain-lain. Pola dan penyebaran penyakit sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor kontak antara penyakit, media penyebaran dan
individu yang rentan terhadap penyakit.
Penyakit dalam berinteraksi
terdapat 2 pola yaitu :
a. Lingkungan yang buruk akibat sampah
menyebabkan suatu penyakit, masuk menginjeksi masyarakat yang rentan
kesehatannya.
b. Inang
pembawa penyakit menyebarkan penyakit melalui sampah yang dihasilkan.
I.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Tingkat kesehatan dari seseorang
mempunyai pengaruh yang besar terhadap penampilan dan kapasitas kerjanya.
Dengan demikian program kesehatan kerja tidak hanya mengusahakan peningkatan
dan pemeliharaan derajat kesehatan baik fisik, mental dan kesejahtaraan sosial,
tetapi juga pencapaian kerja yang optimal. Salah satu masalah kesehatan yang
timbul pada tempat kerja adalah kecelakaan kerja atau yang berhubungan dengan
keselamatan kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan
perkakas karja, bahaya dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya
serta cara-cara melakukan pekerjaan keselamatan kerja yang memiliki sasaran
segala tempat kerja.
Salah satu faktor yang mempengaruhi
penyebab terjadinya kecelakaan yaitu faktor manusia. Penerapan cara-cara kerja
dan prosedur kerja yang baik dapat mengurangi bahaya dan resiko terhadap tenaga
kerja. Oleh karena itu dalam usaha melindungi tenaga kerja hal-hal yang perlu
di perhatikan yaitu pengamanan setempat, peralatan, lingkungan kerja dan
penggunaan alat pelindung perorangan untuk melindungi dari bahaya kesehatan.
Demikian juga kebersihan diri dan pakaiannya merupakan hal penting untuk para
pekerja. Untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan para pekerja yaitu
pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, penempatan kerja yang baik dan pemeriksaan
kesehatan secara rutin sehingga apabila di temukan gangguan kesehatan dapat
segera ditangani. Disamping itu pendidikan kesehatan bagi pekerja serta penerapan
prinsip-prinsip keselamatan dan ergonomic di lingkungan kerja (personal
hygiene) harus dilakukan (Kasjono, 1995).
A.
Alat Pelindung Diri
1. Pengertian
Menurut Budiono (2003), alat pelindung
diri adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi
sebagia atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja.
2. Syarat APD
Menurut Suma’mur (1996), syarat-syarat
alat pelindung diri yang baik antara lain:
a. Alat pelindung diri tersebut harus enak
dipakai.
b. Alat
pelindung diri tersebut harus tidak boleh mengganggu pekerjaannya.
c. Memberikan perlindungan yang efektif
terhadap bahaya yang dihadapinya.
3. Jenis
Alat Pelindung Diri
Menurut Suma’mur (1996), alat pelindung
diri beraneka ragam macamnya, jika digolongkan menurut bagian tubuh yang
dilindungi maka jenis proteksi diri adalah :
a. Kepala : pengikat rambut, penutup,
topi dari berbagai bahan
b. Mata : kaca mata dari berbagai
jenis
c. Muka : perisai muka
d. Tangan dan jari : sarung tangan
e. Alat pernafasan : masker khusus
f. Telinga : sumbat telinga dan tutup telinga
g. Tubuh : pakaian kerja dari
berbagai bahan
Menurut Notoadmodjo (1974), faktor yang
mempengaruhi bersedia atau tidaknya
menggunakan alat pelindung diri yang telah disediakan adalah :
a. Sejauh mana orang yang memakai alat itu
mengerti akan kegunaannya.
b. Kemudahan dan kenyamanan apabila dipakai
dengan gangguan yang paling minimum terhadap prosedur kerja yang normal.
c. Sangsi-sangsi ekonomi, social dan
disiplin yang dapat digunakan untuk mempengaruhi attitude mereka.
F. Penyakit Kulit
Penyakit kulit merupakan kelainan
kulit yang diakibatkan oleh adanya jamur, kuman-kuman, parasit, virus maupun
infeksi. Penyakit jamur dapat hidup dan berkembang biak ditempat pembuangan
sampah dan pada petugas pengangkut sampah. Penyakit kulit dapat menyerang
keseluruh atau sebagian tubuh tertentu. Bahan-bahan yang mengandung nitrit yang
terdapat dalam sampah secara kontak langsung dapat menimbulkan alergi dan iritasi.
Menurut Petrus Adrianto dan Sukardi
(1988), penyebab timbulnya penyakit infeksi jamur adalah :
1. Adanya udara yang lembab
dan panas (daerah tropis)
2. Higiene yang kurang baik
3. Lingkungan yang padat dan
sosio ekonomi yang rendah
Gejala pada penyakit kulit biasanya
penderita merasa gatal kemudian digaruk sehingga terjadi infeksi, selain itu
juga diakibatkan karena reaksi dari
alergi dan timbul benjolan.
Tanda-tanda penyakit kulit
yang dapat dilihat yaitu :
1. Bintik-bintik putih pada muka, leher,
telapak tangan
2. Kulit kelihatan merah
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskristif
analitik.Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan antara sikap penggunaan APD. Design penelitian yang digunakan
adalah cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
antara faktor-faktor resiko dengan efek,dengan cara pendekatan,observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat serta hanya mengkaji masalah-masalah
keadaan subyek pada waktu penelitian berlangsung atau informasi data yang akan
dikumpulkan hanya pada satu waktu tertentu.
B. Populasi
dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian
ini adalah petugas pengangkut sampah di Bantul
yang terdiri dari 70 petugas pengangkut yang berada di bawah Dinas
Kebersihan dan Pertamanan di kabupaten kutai kartanegara
2. Sampel
Penelitian ini menggunakan
cara non probability sampling dengan teknik purposive sampling yaitu
pengambilan sampel secara purposive didasarkan pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2002).
C. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas (independent variable)
adalah pemakaian alat pelindung diri.
2. Variabel terikat (dependent variable)
adalah penyakit kulit.
3. Variabel pengganggu (confounding
variable) adalah usia, lama bekerja dan pendidikan, kebersihan alat pelindung
diri.
D. Definisi Operasional
1. Pemakaian alat pelindung diri
Pemakaian APD yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah seperangkat alat yang digunakan pengangkut sampah
untuk melindungi tubuhnya dari adanya potensi bahaya. Alat pelindung diri
tersebut terdiri dari sarung tangan, seragam kebersihan, sepatu boot.
Kriteria penggunaan alat
pelindung diri:
Lengkap : Petugas pengangkut sampah
menggunakan alat pelindung diri yang berupa sarung tangan, sepatu boot, seragam
kebersihan.
Tidak lengkap : Petugas pengangkut sampah tidak
menggunakan salah satu alat pelindung diri tersebut.
Skala : Nominal
2.
Penyakit kulit
Gangguan atau penyakit yang diderita oleh petugas pengangkut sampah
yang ditandai dengan gatal-gatal pada telapak tangan dan memerah pada telapak tangan yaitu seperti
jamur (Petrus Adrianto dan Sukardi, 1988).
Kriteria petugas yang
menderita penyakit kulit:
Menderita : Pada petugas
pengangkut sampah ditemui
adanya tanda atau gejala gatal-gatal pada
telapak tangan.
Tidak menderita : Pada petugas pengangkut
sampah tidak ditemui
tanda atau gejala gatal-gatal.
Skala : Nominal
3. Variabel Pengganggu
a. Usia
b. Lama Kerja
c. Tingkat Pendidikan
d. Kebersihan alat pelindung diri
E. Hubungan Antar Variabel
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kuesioner
yang telah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
Kuesioner dalam penelitian
ini yaitu kuesioner tentang pemakaian alat pelindung diri dan penyakit kulit
pada petugas pengangkut sampah.
Kuesioner terdiri dari tiga
bagian yaitu:
1. Kuesioner pertanyaan
identitas responden
2. Kuesioner pertanyaan
tentang alat pelindung diri
3. Kuesioner pertanyaan tentang
penyakit kulit
G. Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dilakukan sendiri oleh peneliti, dengan mendatangi Dinas Pekerjaan Umum
yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Responden yang memenuhi syarat dan
bersedia menjadi responden dalam penelitian ini akan diberi penjelasan oleh
peneliti tentang cara mengisi kuesioner. Kuesioner diisi sendiri oleh responden
saat itu juga dan setelah selesai diambil kembali oleh peneliti.
Tahapan dalam pengumpulan
data dengan cara :
1) Editing
Dilakukan untuk mengetahui
lengkap, jelas, relevan dan konsistennya jawaban dalam kuesioner yang telah
diisi oleh responden.
2) Koding
Merubah data yaitu jawaban
yang berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka. Kemudian dimasukkan dalam
tabel dan memberikan kategori memakai dan tidak memakai untuk variabel penggunaan
Alat Pelindung Diri. Sedangkan untuk variabel penyakit kulit dikategorikan
menjadi menderita dan tidak menderita.
3) Entry
Memasukkan data yang ada ke
dalam program komputer.
H. Rencana Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam mengolah data
yang didapat yaitu menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) 13 for
windows yaitu program yang digunakan untuk membuat dan mendistribusikan
informasi hasil pengolahan data statistik untuk mengambil suatu keputusan (Singgih,
2001)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar